lihat sekitar kita.

Mungkin bagi anda yang besar di era 80 atau 90an pernah mendengar salah satu band beraliran jazz yang cukup mempunyai nama di negeri ini, Krakatau. Band yang banyak menghasilkan karya sehingga namanya terkenal tidak hanya didalam maupun diluar negeri. Band ini beranggotakan sejumlah musisi piawai Indonesia mampu menghasilkan serangkaian prestasi bahkan album terbaiknya pernah masuk kedalam 150 album terbaik versi majalah Rollingstone..

tmp_krakatau-1873932379

formasi band krakatau

Krakatau band sendiri awalnya dimotori oleh musisi kenamaan Dwiki dharmawan, Pra Budi Dharma dengan mengusung tema jazz, rock. Namun seiring berjalannya waktu band ini pun sempat tiga kali mengalami perubahan personil dimana saat pertama kali dibentuk beranggotakan Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma, Donny Suhendra dan Budhy Haryono. Pada formasi selanjutnya hadirlah nama Indra Lesmana, Gilang Ramadhan dan Trie Utami yang memperkuat musikalitas band ini. Hinga formasi terakhir yakni Dwiki Dharmawan, Pra Budi Dharma, Nya Ina Rasuki (ubiet), Yoyon Dharsono, Zainal Arifin serta Gerry Herb yang mengusung aliran jazz.

Kelompok band ini pun sukses menelurkan sejumlah lagu hits seperti gemilang, kembali satu, feels like forever hingga sekitar kita. Saya sendiri cukup sering mendengar lagu mereka sedari kecil. Maklum saja, om dan tante hingga ayah saya jialaaahhh sok gak mau dibilang tua besar dijaman itu sering memberikan racun jazz dan blues. hehe. Seingat saya sewaktu usia saya di bangku sekolah dasar saya cukup familiar dengan lagu-lagu mereka hingga saat saya dewasa virus jazz dan blues rasanya cukup merasuki kehidupan musik saya. thank to you dad!

Ada satu lagu dari band krakatau yang saya sangat sukai, saya hafal liriknya. Saat itu lagu ini dinyanyikan oleh tante Trie Utami. Entah darimana saya mendengar pertama kali lagu ini, tetapi yang saya ingat entah berapa kali saya show didalam kamar mandi menyanyikannya 🙂

 

Selama dunia masih berputar

perbedaan tak pernah pudar

terbawa keangkuhan manusia

tak ingin membagi rasa

 

bukalah mata hati kita

bayangkan masa depan dunia

bersatu rasa untuk melangkah

demi meraih harapan dunia yang indah

 

bayangkanlah kita semua berjalan bersama

menuju hidup damai sejahtera

sempatkanlah untuk melihat disekitar kita

ada kesenjangan antara manusia

lihat sekitar kita.

 

Menurut saya lagu ini kalimatnya cerdas sekali. Menghadirkan nuansa cinta tetapi tidak kampungan dan yang lebih hebatnya cinta terhadap sesama manusia. Jarang ada lagu yang bisa menghadirkan tema cinta kasih terhadap sesama manusia. coba deh hitung dengan jari? biasanya kan yang sering cinta pasangan, patah hati, ditinggal kawin ya intinya yang menguras emosional pendegarnya. Dari lagu ini kita bisa belajar untuk bisa lebih melihat sekitar kita, peka terhadap apa yang terjadi disekeliling kita

Saya sendiri sebelum bekerja di lembaga NGO, mungkin sudah merasa cukup peka terhadap orang-orang di sekeliling saya, misalnya terhadap si embak dirumah ibu saya. Melihat ia bekerja siang dan malam dengan usia yang sudah tidak muda lagi hanya untuk menghidupi dirinya, cucunya dan anaknya. Yah di usia senja si bibi dirumah Ibu saya bekerja unutk menafkahi diri sendiri dan keluarganya. Meskipun si anak ada yang sudah menikah dan memiliki anak, himpitan ekonomi terkadang membuat mereka tidak bisa meninggalkan rumah si bibi alias tinggal satu atap. Jangan dibayangkan rumah, secara yang ada hanya kontrakan petakan yang harus dibagi dengan anak lain serta cucunya. Ia bekerja siang dan malam hingga ia tidak dapat melanjutkan kerja dirumah Ibu saya setelah lebih dari 10 tahun  karena tulang betisnya yang sudah tidak kuat lagi.

Lembaga NGO tempat saya bekerja saat ini merupakan lembaga non profit. Segala roda perputaran perekonomiannya berasal dari dana zakat, infak shodaqoh (ZIS). Saya pribadi tidak secara langsung mengurusi zakat karena saya bekerja di bidang kesehatan jadi apa yang saya kerjakan ialah perpanjangan tangan si muzakki (pemberi zakat) dalam memberikan layanan kesehatan kepada para mustahiq (penerima zakat). Sementara layanan kesehatan yang saya kerjakan ialah ranah kesehatan gigi dan mulut

Saya melayani para muzakki ini setiap hari, setiap minggunya. Sudah hampir 3 tahun saya bergabung dalam layanan kesehatan ini, bertemu muka dari pagi hingga petang menjelang. Mereka yang datang ke layanan kesehatan yakni para kaum dhuafa yang memang dalam aturannya salah satu yang berhak menerima zakat. Tetapi tidak serta merta mereka yang datang akan segera diterima sebagai member bahasa untuk keanggotaan peserta namun setiap yang datang akan disurvei apakah dia pantas menerima bantuan kesehatan baik secara full (penuh), secara putus sambung hingga bantuan untuk keseluruh anggota keluarganya.

Layanan yang disediakan meskipun gratis namun fasilitasnya tidak cuma-cuma. Dari fasilitas umum seperti database peserta yang sudah terkomputerisasi, adanya software untuk mempermudah pengisian status pasien, ruang tunggu yang meskpiun kecil namun sangat tertata rapi dan setiap ruangan dilengkapi dengan pendingin udara. Sementara untuk ruangan saya sendiri bila para member ingin meminta pelayanan kesehatan gigi berupa pembersihan karang, pencabutan hingga penambalan dengan sinar (composite) semua dapat mereka dapatkan dengan bahan berkualitas sangat baik, secara gratis tanpa dipungut sepeser biaya pun karena semuanya telah dibayarkan oleh para muzakki.

20140326_135354

sudut di poli gigi

ruang poli gigi

ruang poli gigi

Intensitas bertemu dengan para member terutama member yang sering memeriksakan giginya lama-kelamaan timbul perasaan yang berbeda. Bukan, bukan jatuh cinta hahaaa tetapi rasa peka tadi yang diatas duluuuu sekali pernah saya rasakan kepada bibi dirumah Ibu saya.

Mereka yang datang sebagai member berasal dari kaum dhuafa, kaum yang tidak punya secara materi. Kebanyakan dari mereka datang dengan himpitan ekonomi yang sangat tinggi. Meskipun banyak yang tidak bisa melanjukan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi, tetapi saya pernah menemui ada dari anak para member yang dengan usaha gigihnya dapat melanjutkan sekolah dengan berhasil menembus D1 STAN dan kini ditempatkan di Makasar. Sebelum diterima dulu ia bercerita sempat diterima di S1 Hukum UGM namun dengan biaya hidup tinggi serta si Ibu yang tidak bisa memperoleh penghasilan, maka ia memutuskan menjadi guru bimbingan belajar dari rumah kerumah demi menyambung hidup dan mengejar mimpinya kuliah dengan gratis dan tujuannya hanya STAN. Saya bangga dengan setiap cerita yang ia utarakan setiap datang ke ruangan dan dengan rajinnya setiap 6 bulan sekali membersihkan karang gigi.

Tidak berhenti pada si anak yang lolos D1 di STAN. Ada pula Ibu yang dengan semangat 45 selalu menemani anaknya yang memiliki penyakit down syndrome (DS) ke sekolah khusus. Ia cari cara agar si anak yang dengan kebutuhan khusus tadi dapat mengenyam pendidikan supaya tidak bergantung kepada dirinya. Hasilnya komunikasi si anak sangat baik bila dibandingkan anak DS pasien saya lain. Si anak yang setiap datang ke poli gigi sangat antusias sampai-sampai ia tidak akan mau turun dari dental unit meskipun perawatan telah selesai

tmp_20140109_122111-1652078389

Lain lagi ada Ibu yang harus berjuang sendiri mencari nafkah untuk keempat anaknya. Ya, ia berjuang karena sang suami sudah tidak ada dan ia harus menafkahi keempat anaknya. Dua masih sekolah, dua masih balita. Bagaimana ia menjaganya disaat ia harus mengambil pekerjaan informal mencuci baju dari rumah ke rumah? 2 Anak yang paling besar bergantian menjaga si adik yang usianya masih 3 tahun dan 8 bulan. Yang masih sekolah? 1 masih mengenyam pendidikan kelas 2 SD satunya lagi TK. Si Ibu dari pagi hari menyiapkan makan keempat anaknya hingga ia pulang petang hari secara bergantian si anak yang besar menggantikan posisinya

Ada lagi Ibu yang setiap beberapa hari sekali mengantarkan anaknya transfusi darah. Bukan 1 tetapi 2 anaknya harus mengalami transfusi darah. Anak yang besar berusia 7 tahun dan kecil berusia 3 tahun. Keduanya mengidap thalasemia. Si Ibu harus bolak balik ke RS demi si anak agar HB nya tetap stabil. Sementara si Ibu baru saja melahirkan dan bayi yang kini berusia hampir 1 tahun juga ada kecendrungan thalasemia.

Belum lagi ada anak yang semenjak lahir divonis menderita gagal jantung. Ia datang menemui saya untuk melakukan perawatan giginya sebelum dilakukan operasi jantung. Tugas saya ialah memastikan tidak ada satu gigi pun yang bermasalah baik lubang sekecil apapun agar menghindari terjadinya infeksi paska operasi. Tau usianya? Belum juga genap 5 tahun. Setiap datang didampingi oleh ibunya, yang pada akhirnya saya tau itu Ibu itu adalah tetangganya yang ikhas merawat dia. Kenapa? Ibu kandungnya yang sedang sakit berat, harus banting tulang menghidupi kedua kakaknya setelah sang ayah tiada. Untuk mengurangi beban hidup si anak bungsu yakni pasien dititipkan ke tetangga.

tmp_20131129_085235-107548842

Pernah juga pasien saya bercerita bagaimana ia bisa sampai mendaftar menjadi anggota layanan kesehatan. Dulu ia bekerja di perusahaan pertambangan lepas pantai, gajinya jangan ditanya besar sekali. Namun ia mengalami sakit diabetes melitus karena pola makan tidak terkontrol. Sering mengkonsumsi obat-obatan untuk diabetes membuat ginjalnya menjadi rusak. Akibatnya ia harus cuci darah semenjak tahun 2000an dan dengan biaya berobat yang membengkak materi pun terkuras. Seperti di sinetron kisahnya saat ia jatuh, istri pergi meninggalkan dan ia harus menghadapi kehidupannya dengan kedua anaknya yang mau tidak mau harus turut bekerja sambil sekolah.

Masih banyak kisah para member yang tidak bisa saya sebutkan. Tidak semua kisah mereka manis dan menjadi pembelajaran bagi saya ada juga kisah tragis maupun pahit lainnya. Mereka yang bekerja mengisi sektor-sektor informal dari buruh cuci, juru parkir, tukang pijat, supir angkot, penjual sayur, penjaja makanan di sekolah anak bahkan pembantu rumah tangga dan berbagai pekerjaan lain yang seringkali dipandang sebelah mata oleh kaum masyarakat urban saat ini. Bahwa mereka ada dan mempunyai kehidupan. Saya pribadi belajar banyak dari kehidupan para member yang seringkali saya berbisik “ya Allah gak ada apa-apanya banget deh hidup gwe sama ini orang….” Bahwa terkadang permasalahan hidup yang saya alami mungkin hanya seujung kuku orang-orang yang ada di hadapan saya dan saya pun terkadang masih mengeluh, masih menganggap bahwa beban itu terlampau berat.

Mereka ditempa oleh pendidikan yang bernama kehidupan. Mereka yang membuat saya sekarang sering menoleh dijalan apa si supir angkot itu pasien saya apa si ibu jualan itu pernah saya kerjakan? Entahlah. Tapi merekalah yang membuat mata hati saya semakin terbuka, semakin peka, semakin saya menghargai bahwa mereka juga manusia, yang layaknya harus juga kita hargai.

images

pic from favim.com

 

7 thoughts on “lihat sekitar kita.

  1. Lagu2 jaman dulu liriknya simple tapi mengena.. Jadi nggak bosen-bosen dengernya. Enggak lebay kayak jaman sekarang, lagu cintanya lebay.. Ditambah lagi lagu cintanya selingkuhan alamakkkk!! 😀

  2. jadi bisa lebih bersyukur dan ga gampang mengeluh ya, karena ternyata masih bnyak orang diluar sana yang masalahnya lebih berat dari yg kita punya 🙂
    thanks for sharing mak :))

    • iyaaaaa maak Rani. Beneran deh kadang kalo lagi ngeluh apa bosen pas insafnya jadi malu sendiri.. lah banyak yang masih lebih kurang beruntung dari kita.

      sama sama mak. makasi udah mampir 🙂

  3. Aaah nissaa…bener banget nih

    Bersyukur dengan apa yg kita punya…lihat kebawah daripada dengak ke atas terus..ga akan pernah cukup!!…Noted for myself juga ini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s