badai pasti berlalu

Beberapa waktu yang lalu saya pernah dirasuki virus kegalauan.

Galau meninggalkan anak bekerja karena  ia tidak mau makan (baca : tubuhnya semakin mengecil.)

Mungkin bagi sebagiam orang hal itu sangat sepele.. “ya ilaaaaaah gak mau makan sante aja lagi ntar-ntaran juga dia mau lagi.” Memang terkadang terselip kalimat seperti itu, mungkin si anak lagi bosan dengan menu makanan saya atau dia masih kenyang atau mungkin juga dia ikutan galau tidak mau makan, namun yang lebih seram kalau tidak mau makan karena sedang sakit.

obat anak

kalau anak lagi sakit (pic from obatanak.info)

Nah, tidak mau makan karena sakit inilah yang membuat sebagian ibu-ibu pasti pusing keliling kompleks. Tujuh keliling biasa bu, keliling kompleks luar biasa capeknya hehe.. Sudah harus mengobati sakit yang diderita si anak (maksud saya dibawa ke dokter dan si ibu tinggal meneruskan pengobatan dari dokter atau lakukan pengobatan ala rumahan yang sedang heitss saat ini home-treatment), si ibu juga harus menahan kantuk tiada tara, bagaimana tidak kalau tengah malam si anak bangun dari tidurnya, batuk-batuk atau demam tinggi  sehingga hanya ingin dipeluk ibunda tercinta. Belum lagi harus memikirkan menu yang mau disantap si anak. Tanpa sakitpun jangan ditanya bagaimana ibu-ibu melihat mas tukang sayur yang setiap hari nongkrong deket rumah dan teriak “sayyyyuuuuurrrrr…” pasti suatu saat pengen si mas sayur itu datang dengan bilang “rawon, steakkk..rames…” ahahaahha eh tapi bener loh ada tetangga saya yang pernah saking dia pusing dengan menu makan sehari-hari sampai bilang “Mas, kenapa sih gak pernah bawa makanan jadi bawanya sayur mulu. Mbok ya sekali-kali bawa makanan jadi gitu saya kan gak perlu pusing mikirnya.” Jawaban si mas sayur “Bisa-bisa saya diamuk sama yang punya warteg bu!” :p

Tuh kan udah mulai pusing mikirin menu dirumah apa lagi?

hihihi

Kebayang deh pastinya memutar otak menyiapkan menu untuk anak yang lagi sakit. Biasanya si anak lebih picky eater. Yang sudah memiliki sifat picky eater yaaaa itu derita loe deh mak!! haduuh #eluselusdada #dadanyaombeckham ;p dikasih yang keras jelas tidak mau, maunya yang lembut. pasti juga makannya sedikit-demi-sedikit dan biasanya berakhir dengan 1 hingga 2 suap sehingga skenario memilih menu – menyiapkan – mencoba menyuapi — mencoba lagi — hingga —- tutup mulut! harus sampai disini #siemakkipaskipas

Seperti itulah hari-hari kelabu kalau anak sedang sakit dan menolak untuk makan. Meskipun setiap saat pemberian makan tidak terus saya yang melakukan tapi diwakili oleh si embak, namun dapat laporan “Bu, hari ini makannya abang pagi gak makan apa-apa, paling cuma pocky 2 biji kali ya bu. Siang sekitar 2 suap.” saat saya menelefon si embak di sela-sela waktu istirahat rasanya kalau bisa pengen gegulingan di dental unit (apa daya badan saya lebih besar dari dental unit) huhuhu gak jadi deh. Tetapi laporan tadi seketika mengubah mood swing saya.

Setelah menerima laporan yang bikin kepala saya cenat-cenut siang itu, saya sulit untuk berkonsetrasi. Bagaimana tidak? Berapa asupan yang dia dapat dalam sehari ini?? Dengan makan 3 kali sehari dan dihabiskan makanannya saja, terkadang berat badannya sulit untuk naik. Bisa-bisa berat badan abang meluncur terjun bebas lagi 😥

Memang sudah sekitar 10 hari belakangan abang terkena batuk pilek. Namun karena saya jarang membawa anak-anak ke dokter bila tidak mendapati penyakit serius saya hanya lakukan pengobatan rumahan serta beli obat batuk di apotik. Pikir saya, paling hanya virus saja asal kondisi tubuh dijaga insya allah batuk pileknya hilang.

Tapi saya salah.

Keesokan harinya saya ijin tidak bekerja menemani abang periksa ke dokter anak di RS daerah Kebayoran, Jakarta Selatan. Jauh memang bila dilihat dari tempat tinggal saya di bilangan Pamulang. Tapi memang ini dokter abang sedari ia lahir dulu di RS daerah Kemang. Ribet ya? biarin :p intinya ini dsa praktek di dua RS tadi. Oooo.. #manggutmanggut. Pagi itu saya di drop sama suami, si adik tidak saya ajak cuma saya berdua abang di RS.

Setelah mengambil nomor antrian dan mendaftar kami berdua menunggu di poli. Saat daftar ulang di poli abang anza diukur BB dan suhu nya 38,3. Oleh suster di poli abang ditawarkan obat penurun panas, dia bilang kasian bu anaknya nanti. Saya liat dia masih cukup ceria, jadi saya tolak pemberian suster itu. Nanti kalau suhu tubuh semakin tinggi dan semakin lemah tidak ada gairah mungkin bisa dikasih suster, jawab saya

Sambil menunggu antrian saya coba memberi makan pagi, lumayan sekitar 6-7 sendok makan bisa masuk. Gimana tidak lumayan itu jam 10 pagi belum ada makanan yang masuk. Kelar beberapa suap makanan, saya coba sodorkan cookies. Lumayan lagi, satu persatu abang ambil sambil ia bermain perosotan bersama pasien anak lainnya.

“Anzadeo”

“Nah bang dipanggil tuh” kata saya

Mulai deh raut mukanya berubah yang tadinya masih ketawa-ketawa dan lari-lari mulai diem, mingkem untung gak sambil sungkem :p berubah banget deh pas masuk ke ruangan si dokter hihi

“Kenapa lagi bu si anza?” tanysi si tante dokter. Maklum abang beberapa waktu terakhir sering bolak balik ke RS karena sempat sulit makan dan terkendala berat badan yang semakin kecil. Abang bahkan menjalani berbagai tes untuk mengetahui mengapa badannya sulit naik, dari tes darah, alergi, urine hingga feses semua pernah dilakoni

“Ini dok si anza batuk terus, sudah sekitar 10 harian. Awalnya sempat demam cukup tinggi tapi gak setiap hari. Sekitar 2 arian udah sembuh lagi terus beberapa hari lagi tinggi lagi. Batuknya juga saya lihat kebanyakan malam hari saja terutama tengah malam seperti sesak gitu.”

Sembari diperiksa si tante dokter abang tidak pernah lepas dari pegangan saya, takut nampaknya. Matanya pun sudah mulai berkaca-kaca. Si tante dokter bilang “Ini sih tidak ada radang ya bu, ya sudah kita periksa lab saja ya biar ketauan kenapa. Ini juga saya cek suhu naik lagi jadi 38.7”

Saya pun mengiyakan rujukan dari tante dokter untuk dilakukan tes darah. Saya pun bergegas pergi ke bagian laboratorium. Saya kasih surat pengantar kepada perawat tidak lama kemudian abang dipanggil. Muka si abang pucat hihi. Maklum saja ini kali ke 2 dia diperiksa darah di RS yang sama. “Abang mau pulang saja bunda, abang gak mau.” serunya. Semakin lama ia yang tadinya hanya berkaca-kaca mulai menangis hingga kejar, hhuhuhu tapi saya si emak tetap memaksa dia dengan menggendongnya dan menahan bersama perawat yang bertugas.

Setelah dari bagian laboratorium saya pergi ke kantin RS dan memesan makanan. Maklum sudah jam 12 lebih si emak mulai mengalir lagu-lagu irama kelaparan di perutnya hehe 🙂 Selain itu juga hasil darah akan diberikan 1 jam kedepan. Sembari saya makan, saya juga suapi abang tetapi dia menolak makan. Saya pegang keningnya lumayan panas. Akhirnya dia cuma duduk dan menemani saya makan.

Kelar makan siang saya langsung datang ke bagian laboratorium unutk mengambil hasil. Dan kagetlah saya ketika membaca hasilnya di tangan

Leukosit abang : 19.370! (yang acuan normalnya 5000-10.000)

 

Astaghfirullah! ini kena infeksi apa si abang? Lemes saya membacanya. Saya gendong iya untuk kembali ke poli anak di lantai 2. Saya berikan hasil tes darah ke suster dan disuruh menunggu karena ada pasien didalam. Tidak lama kami dipanggil

“Aduh bu, ini si anza leukositnya tinggi sekali 19 ribu! Pantas saja dia lemas sulit makan juga. Si anza ini kena broncopneumonia.”

Deg! Apa lagi itu. meskipun saya di bidang medis tapi ngurusin gigi orang jadi gak gitu paham.

“Apa itu dok broncopneumonia?” tanya saya

“Ini penyebabnya bakteri bu. Bakteri di saluran pernafasan anza.”

“Koq bisa ya dok?” ujar saya lagi.

“Bisa saja karena ini kan menyebar lewat udara. Bisa dari orang dewasa juga. Nah mungkin saat itu hanya virus biasa batuknya namun karena anza tidak bisa keluarkan dahaknya jadi dia mengendap dan daya tahan tubuh jadi drop masuklah itu bakteri. Ini menular bu dan sifatnya akut (saat ini juga). Saran saya lebih baik anza dirawat.”

Waduh! Masa harus sampai dirawat? Bingung juga saya memutuskan harus dirawat atau tidak sendirian, sementara suami masih di kantor. Saya tanyakan apakah bisa dirawat jalan diruma. Si tante dokter mengatakan boleh saja dirawat dirumah tapi saya harus memastikan asupan makanan dan minuman dirumah harus cukup tinggi untuk mengurangi resiko leukosit semakin tinggi karena kalau tidak akan berbahaya. Saya katakan akan menghubungi suami terlebih dahulu. Namun sambil menunggu kedatangan suami ke RS saya meminta dokter untuk memberi inalasi untuk anza agar ia sedikit tenang dan bisa bernafas lebih ringan.

Saya dan anza segera ke ruangan perawat untuk meminta diinhalasi. Abang saya pangku berdua sambil memegangi masker. Teriak dan menangis? pastinya. Selama kurang lebih 15 menit, ya 15 menit itulah dia menangis kencang. Bagi saya tidak mengapa yang penting pernafasannya sedikit membaik tidak tersengal-sengal. Alhamdulilah selesai inhalasi anza sedikit lebih tenang, meskipun sampai celana saya basah. Kenapa? dia saking takutnya sampai mengompol di celana saya :p

Tak lama berselang suami datang, kami kembali ke ruangan si tante dokter. Supaya suami tidak dalah informasi saya meminta dokter abang untuk menjelaskan kembali. Oiya satu yang membedakan BP (broncopneumonia) dengan TBC ialah adanya demam tinggi serta kadar leukosit yang juga sangat tinggi. Kenapa kami berdua cukup mengkhawatirkan itu, ada kerabat yg anaknya kebetulan terkena flek. Sedikit kekhawatiran karena anza timbangan berat badan tidak kunjun naik dan batuk lumayan lama. Setelah diberi penjelasan oleh dokter anak saya dan suami pun akhirnya memutuskan untuk merawat abang di RS agar kondisinya tidak semakin buruk.

Kami pun sibuk mencari ruangan yang yang tersedia, tetapi di RS tersebut ruangan sudah full yang ada hanya ruangan VIP dan itu artinya jauh diluar plafon asurasi :p selain itu juga jaraknya yang cukup ribet bila harus pulang pergi dari rumah kami di Pamulang. Akhirnya saya mencoba menelfon RS tempat si tante dokter praktek di kemang. Alhamdulilah ada 2 kamar yang masih kosong meskipun sedikit diluar plafon di kelas utama tapi kami pun memutuskan mengambilnya.

Sesampainya di RS daerah kemang saya langsung mendaftarkan di bagian administrasi dengan membawa surat pengantar dari si tante dokter. Tidak lama abang dibawa ke IGD. Oleh dokter umum yang ada di IGD abang segera di-observasi dan diminta surat pengantar dari dokter sebelumnya. Kami pun diminta kembali ke administrasi unutk menyelesaikan permohonan rawat inap. -__-  Sambil menunggu administrasi abang diajak oleh eyang dan angkunya (bapak ibu saya) ke kafetaria RS. Lumayan dia menghabiskan kentang goreng kira-kira setengah dari sajian di piring. Diseneng-senengin dulu sebelum yesssss here it comes..

masuk ke IGD, si abang sudah teriak-teriak.. “Abang mau naik mobil yanda aja, mau pulang.” Nampaknya dia sudah mulai sadar akan ada tindakan apa lagi ini? Tidak lama tante suster di IGD memasang infus ketangan kecilnya. Lemes? saya yang lemes. Menyuntik orang hampir setiap hari dan berhadapan dengan jarum suntik tetap bisa membuat saya lemas bila yang saya hadapi ialah jarum suntik yang harus masuk kedalam tubuh anak saya 😥 huhu

Tiba di kamar abang pun terlihat sangat lemas, tidak berhentinya dia menangis dan meminta naik mobil untuk pulang. Berulang kali pulalah saya dan suami mencoba membujuk yang akhirnya setelah bada isya ia pun tertidur. Eyang dan angkunya pun ijin kembali pulang kerumah serta suami saya pun pulang untuk menjemput si adek yang karena asi saya sedang sekarat ditmabah abang yang masuk RS membuat pikiran kacau jadilah asi sangat sedikit. Si yanda pun  pulang dan menjemput adik beserta mbak.

20140314_083024

tanganku seperti robot

Hari-hari selama di RS lumayan memebuat lelah dan timbul rasa kebosanan. Bagi saya, suami apalagi abang. Saya harus ijin kantor selama menemani abang di RS, suami pun akhirnya harus ijin dari kantor untuk bolak balik RS-rumah, entah sekedar membawa adik, membwa hasil peraan atau mengambil barang yang dibutuhkan. Apalagi abang dia suda nampak bosan dan selera makannya sangat sulit. Dalam satu hari dia hanya mau makan anaggur! iya buah kecil manis asam merah itu menjadi favoritnya. Bagaimana saya tidak tambah inginmakan panadol sudah dia lemas dan tidak ada tenaga asupannya anya anggur, sementar makanan RS sukses masuk ke perut saya huhu

20140312_072538

si adek yang sayang sama si abang

20140314_175913

kereta thomas pun turut diboyong ke RS

 

Alhamdulilah perlahan demi perlahan ada perubahan lebih baik, saya ingat sekali semenjak hari ketiga dia sudah mau makan. Karena apa? ada telor puyuh di dalam salah satu makanannya. oh thank god! Semenjak itu nafsu makannya mulai ada, mulai makan nasi, lauk, sayur hingga berbagai cemilan lain meskipun sedikit sukses dilahapnya. Hari ke tiga itu pun panas sudah reda dan saat tante dokter visit dia mengatakan kalau besok hasil tes darah sudah normal insya alla abang boleh pulang. Tetapi tetap inhalasi dan diatermi tetap harus dilakukan

Diatermi sendiri semcam diberikan pemanasan dengan sinar merah sekitar 15 menit dibagain depan (dada) dan belakang (punggung). Setelah dilakukan diatermi biasanya mbak fisioterapi akan melakukan massage dengan cara digetarkan di beberapa titik tertentu. Guna diatermi dan massage menurutnya dengan panas diharapkan lendir/dahak akan terlepas dan digetarkan agar ia luruh. Sementara inhalasinya diberikan semacam obat yang dipanaskan untuk dihirup uapnya dengan masker untuk memperlancar pernafasan. Inhalasi dalam seari maksimal dilakukan 3 kali dengan intensitas waktu 4-6 jam.

20140312_180414

diatermi

20140313_091511

inhalasi

Pagi di hari keemapat abang pun diambil darah, seperti biasa ia teriak ketakutan. Ini tidak berubah dari dia dulu dirawat pertama kali di RS saat usia 1.5 tahun dengan diagnosa rotavirus. Saat itu abang BAB cair dan muntah cukup banyak sehingga takut kekurangan cairan sehingga harus dirawat di RS.  Setiap orang yang memasuki ruangan dia akan menangis kejar dan berkata “abang mau bobo bunda..” ahaaaa sampai ada suster yang menyadari itu hanya strategi si abang doang wkwkwkwkwkkw cari yg laen bang alesannya :p

Sekitar 2 jam kemudian ada suster yang datang keruangan kami dan mengatakan bahwa jumlah leukosit anza sudah 6400. Sujud syukur saya, insya allah bisa pulang hari ini.

Saat tante dokter visit di sore harinya, abang akhirnya diijinkan pulang. Dia bilang sudah jauh lebih baik kadar leukosit dan kondisi fisik abang. Abang selama di RS harus diterapi antiobiotik karena tingginya kadar leukosit, namun karena ini yang pertama kalinya dia mengidap penyakit infeksi maka walaupun diberikan antibiotik generik sangat cepat pemulihannya.

Jadilah jumat malam itu kami dapat keluar dari RS, abang sudah jauh lebih baik begitu pun dengan nafsu makannya. Tau apayang dia minta selepas dari RS? Abuba. Yess! the famous steak, abuba. meluncurlah bunda, yanda dan abang.

20140314_191929

hore aku sudah boleh pulang!

 

 

Semoga sehat terus ya bang, jangan buat galau bundamu lagi. 🙂 Kalau kata tante dokter kalau saya datang dengan anak sakit “tenang bu, badai pasti berlalu. dan menunggu badai-badai berikutnya.” haahaha

20140313_112227

No matter how weak you are, just smile. and the sun will smile to you

 

5 thoughts on “badai pasti berlalu

  1. bener banget mak, ikut pusing kalau anak ga mau makan, apalagi sakit dan sampai dirawat.. saya suka dengan kata-kata dokter si abang.. “tenang bu, badai pasti berlalu. dan menunggu badai-badai berikutnya.”
    sehat terus ya abang. dan semoga kita sebagai orang tua diberi kekuatan menghadapi badai-badai selanjutnya ya bunda..

    salam kenal.. ^_^

    • iya betul banget deh kalo anak sakit kitanya ikutan spanneng yaa..

      emang mbak dokternya seru jadi aku kalo kesana berasa curhat sesama ibu ibu gak berasa ketamu dokter. hehe

      salam kenal juga mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s