di persimpangan jalan

“pejamkan mata.. bila kuingin bernafas lega

dalam anganku, aku berada di satu persimpangan jalan.

jalan yang, sulit kupilih...”

Masih inget sama lirik lagu soundtrack salah satu film yang fenomenal di tahun 2000an.

Yang kalo difilm-nya pas adegan si cewe lagi uring-uringan di tempat tidur sambil baca buka terus nangis bombay H2C (harap-harap cemas) sambil sesekali ingat gimana hubungan sama si cowoknya hihi. iya ini soundtrack film Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Lagu ini sendiri ditulis dan dinyanyikan oleh Meily goeslaw. Hits banget waktu jaman AADC lagi hangat-hangatnya. Disaat semua cewe-cewe abege seusia saya waktu itu yang masih kenyes-kenyes alias belom jadi emak-emak kaya sekarang (sembunyiin gelambir :p) ngimpiin si aktor tampan nicholas saputra jadi number one list nya kriteria pacar hahaaa dan menjadikan si dian sastronegoro pemeran wanitanya idola semua kaum. Maksudnya enggak kaum hawa yang muji-muji kecantikannya apalagi kaum adam yang udah mati-ini-cewek-cakep-gilak- gak bakal berkedip selama film AADC berlangsung.

film ada apa dengan cinta (AADC).

Film ADA APA DENGAN CINTA (AADC) *pic diambil dari kabar 24.com

Film itu memang booming sekali. Sempat masuk box office perfilm-an Indonesia yang setelah sekian lama tidak menghasilkan film bermutu dengan wajah baru, tiba-tiba hadir dengan duo Rangga-Cinta sebagai ikon remaja saat itu. Adegan si Cinta yang jatuh mengambil buku Rangga di depan kantor sekolah, adegan mau berpisah di bandara sampai dialog di film yang tidak mungkin tidak bisa saya lupakan. “Pecahkan saja piringnya, lalu kulari ke hutan. Diam di pantai…” ahahahaa tag-line kata-kata cinta ini paling nampol banget dan pastinya terus terngiang bagi siapapun anak muda yang pernah hidup di jaman AADC #unjukjaripalingtinggi

Soudtrack film ini sendiri seperti yang saya sudah bilang dibuat oleh Meily goeslaw. Full album. Keren semua. Dan saya rasa saat itu tante meily goeslaw dan om Anto Hoed karyanya belum “tercemari” bumbu ngalay ala dimas beck dkk di BBB. hihi piss tante meily. Semua lagu yang ada di albumnya juga begitu tidak ada satu pun yang tidak menjadi hits. Apalagi lagu bimbang ini, yang liriknya makjleb nyugsep masuk ke hati…  di satu persimpangan jalan. jalan yang sulit kupilih.

Persimpangan ini persis seperti apa yang saya rasakan, saat ini

Pagi ini seperti biasa. Saya setel alarm supaya bisa bangun jam 4 pagi. Tapi setelah alarm berbunyi, biasanya si adek ikutan bunyi juga alias nangis minta nyusu dan ditepok-tepok. mmm… maksudnya di-nina bobo lagi. kasih PD sebelah kiri buat nyusuin masih grutel-grutel dan dia resah akhirnya coba kasi sebelah kanan dan sekitar 30menit akhirnya di baru tenang kembali. (geragas banget sih dek wkwkwk..) Tidak lama si adek tertidur, adzan subuh terdengar. Maklum rumah saya di komplek kecil dan letak si mushola tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Usai sholat subuh saya siap melakukan tugas saya sebagai ibu rumah tangga. Seperti biasa tugas seorang ibu tangga menyiapkan keperluan seisi rumah. Karena si adek sudah mulai makan MPASI dan abangnya juga makan saya harus menyiapkan semua makanan mereka untuk satu harian.

Saya mulai membuat bubur saring untuk adek, bubur yang simpel dan praktis meskipun harus buat sendiri. Saya rebus nasi, masukkan kaldu yang saya stok di freezer dan iris beberapa potong sayur untuk dimasukkan. Mempersiapkan makanan untuk abangnya, dari makanan pagi-siang-sore. Hari itu saya pilih menyiapkan ikan goreng patin untuk abang, serta nugget wortel-daging yang memang biasa saya stok di freezer untuk menu sarapannya. Untuk menu makan siang dan sorenya saya pilih sop iga dan ikan lele. Sambil memasukkan tambahan sayur kedalam bubur adek dan merebus iga, saya mulai menyiapkan sayur yang akan saya buat sop iga. Beberapa sayur segar yang biasanya saya stok di akhir pekan mulai saya bersihkan. Mulai membuat bumbu hingga saya pun mulai memasak sopnya. Suami dan kedua anak saya masih belum bangun, masih terlelap. Ya iyalah wong masi jam 5 pagi hihi. Yang ada cuma si mbak, dia juga turut memeriakan pagi buta saya hehe i lop yu pull mbae, dari mulai menyapu-mengepel-menyetrika semua ia kerjakan jauh sebelum kedua anak saya bangun.

Setelah selesai mempersiapkan semua baan yang akan digunakan untuk memasak sayur, saya mulai masukkan satu-persatu. sambil tidak berhenti tangan kiri ikut mengaduk bubur si adek (haha i cant belive i can do this!). Kelar memasukkan semua bahan sayur saya mulai membuat makan pagi untuk si adek (kalau bubur saring itu untuk makan saiang dan sorenya). Pagi ini si adek ingin saya buatkan oatmeal-puree pepaya (gak kebayang rasanya! ahaaah meuni hambar manis) gapapa yang penting disikat miring! eh sikat habis ;p. Kelar? jangan sedih masih banyaaaaaak! hihi setelah bubur saring adek-sop iga-oatmeal puree pepaya- saya pun harus mempersiapkan makanan untuk bekal saya kerja dan makan pagi suami. singkat kata karena masih ada nasi di rice cooker saya langsung buat nasi goreng. Cepat dan ringkas. Setelah itu saya pun sibuk membuat bekal untuk makan siang saya di kantor, saya buat ikan patin goreng juga dan bawa sayur sop iga yang baru matang

Kelihatannya ditulis disini mudah. yak kelar ini lanjut itu. nyatanya? percayalah jam 4 pagi memulai aktivitas langsung di dapur setelah kadang semalaman dibombardir adek minta jatah kenyot sana sini dan abang yang terkadang bangun teriak histeris tidak jelas rasanya ingin kepala saya titipkan dulu ke bantal. hiihi. belum disaat masak tiba-tiba si adek bangun, suami saya ada keperluan lain (cubit yanda! ;p) dan tidak bisa memegang dia. Ini anak saya bawa ikut masak. Untung anaknya diem, tapi diemnya kalo digendong ahaaaa cubit ya dek! kalo ditaruh dia bisa nangis-nangis. Walhasil sambil ngulek bumbu, sambil goreng ikan ini anak ikut saya gendong. Perlu keahlian khusus biar sembari digendong gak kecipratan minyak, gak kena cabe. (huhu maafkan bundamu sayang).  Si embak tercinta? dia pun sibuk gak kalah dengan saya, sibuk berurusan dengan setrikaan. gubraaak

20131218_070306

salah satu sarapan pagi dirumah. satu bunda, satu abang, satu adek.

Sebenernya melakukan hal ini cukup mudah dan tidak bikin jantung saya copot, maklum udah terlatih dengan anak 2 yaaa. tapi kann… the show must go on. si emak ini haruuuus sudah kinclong sebelum jam 7 berdentang. karena nanti bisa berubah jadi upik abu terus ketinggalan kereta dan gak dapet pangeran mirip vino bastian (pentung si emak biar sadar! :p ) maksudnya ya jam 7 teng saya sudah harus berdiri manis di depan pintu untuk siap-siap pergi kerja mendapatkan segengam berlian dan sebuah tas berlabel biar bisa dipajang di IG nya kakaaak terus kasih hastag label ini label itu padahal kredit ini utang itu (pentung lagi! :p)

Tiba-tiba..

adek nangis minta nyusu, saya naik ke kamar

sambil PD kiri nyusuin adek, yang kanan tetap bergerilya.. buat perah ASI wkwkwkkw!

kelar nyusuin. si adek yang masih bau acem belum mandi saya minta tolong ke si embak untuk memandikan. Abangnya? sambil liatin adeknya nyusu masih sibuk goleran di tempat tidur.

Terjadilah drama itu.

Me : ” Abang mau turun minum susu?” sambil siapin baju dan meraba kening si abang yang memang sudah berapa ari panas turun naik.

Abang : ” Gak mau bunda, abang mau bobo aja.” sambil pegang gulingnya lagi balik memungguni saya dan tiduran.

Me : ” Bang, kalau abang gak mau minum susu kita makan aja yuk. Bunda udah siapin ikan tuh buat abang. sama nugget juga. Enak loh..” sambil megang dia, sudah lumayan turun panasnya. Alhamdulilah

Abang : ” Gak mau bunda abang gak mau turun, gak mau makan..” sambil terus tidur lagi

Me : ” Ya uda kalo gak mau makan dan minum susu, bunda pakai baju aja ya.. bunda kan harus kerja.”

dan meledaklah tangis si abang.

Saya mencoba untuk mediamkan, sambil ditepuk-tepuk, sambil dielus dia tetap tidak mau. Saya tetap berusaha menenangkan sambil berganti pakaian. Tetap saja dia nangis. Yang dia inginkan hanya saya, ibunya. Tidur disamping dia. Sambil memeluknya karena sedari tangan saya lepas sedikit saja dia akan bangun dan meronta-ronta. Dianggapnya saya tetap bersiap pergi dan akan meninggalkan ia dirumah

Saya?? Si ibu.

Beribu banyak pertentangan batin saya dalam sepersekian menit itu.

Apakah memang ini strategi dia agar saya tidak bekerja hari ini?

atau Apakah ini cara dia mengutarakan, mom please i want you here, to stay with me today..

Apakah ini cara dia bilang dia butuh ibunya.

————————– dia butuh saya.

oh tidak jangan dilanjutkan.

Sudah cukup tangisan saya hari itu sembari berangkat kerja ke klinik. Sudah cukup tekanan batin saya bila mengingat bola matanya saat ia pegang tangan saya dan bilang, “bunda peluk…”,yang secara tidak sadar membuat hasil pompa asi adek meluncur dengan drastisnya. Biasa saya bisa menghasilkan 4-5 botol. Tebak berapa yg saya hasilkan? 1.5 botol sudah lebih dari bagus dalam kurun 3 hari. Sudah cukup pikiran saya terbagi dengan kejadian drama pagi itu yang untungnya pasien di poli tidak sebegitu banyak dari biasanya #pasienpengertian

Drama hari itu pun berakhir dengan yanda yang sudah selesai mandi dan siap berpakaian masuk ke kamar dan mulai membujuk. I dont know how he spell the magic, but it works anyway! thank you nda! tapi tetap saja sampai dibawah dia masih minta dipeluk oleh bundanya. Dia bilang “peluk bunda, peluk bunda….”. Oh nak andaikan kamu tau seberapa berat langkah ini keluar bila bekerja dengan mendegar suaramu seperti itu. Tapi bunda harus kuatkan hati, karena bunda pun ada tanggung jawab yang harus bunda kerjakan.

Abang pun akhirnya mau ditinggal dengan bantuan si embak dan upin-ipin. Yak bantuan embak tercinta yang membujuk dia untuk tidak menangis histeris dan mau minum susu dengan gelas thomas kesukaannya sembari melihat ipin-upin di televisi.

Saya pun pergi kerja dengan suami

Namun sepanjang hari di klinik, pikiran saya tentu saja terngiang dengan segala drama pagi tadi.

Saya langsung berpikir, lama…

Dulu kala sedari saya kecil, Ibu saya adalah seorang pekerja. Pegawai pemerintahan Departemen di Ibukota Jakarta. Beliau kerja nine to five. Ibu saya pintar, saya akui itu. Beliau diterima di salah satu perguruan tinggi negri di Bogor tanpa tes penerimaan hanya berdasarkan nilai raportnya. Beliau pekerja keras. Dari pagi, persis seperti apa yang saya lakukan sebelum berangkat kerja juga ia lakukan pada saya dan adik-adik saya. Saat saya pulang sekolah atau les selalu sudah ada makanan yang tersaji karena ibu membuatkan jauh sebelum kami bangun tidur.

Dulu saat saya liburan sekolah dan ibu ada tugas di luar kota, saya sering diajaknya. Menginap gratis di penginapan yang dibayar oleh kantor. hehe. Saya si anak yang suka jalan-jalan ini senang. Meskipun ibu sibuk rapat saya masih bisa berenang meskipun di bath tub :p dan sesekali bermain dengan anak teman-teman ibu saya yang juga diajak pergi orangtuanya.

Namun bila saya tidak diajak pergi keluar kota dan pulangnya ibu saya membawa foto perjalanan dinas. Tebak apa yang saya lakukan?? Saya corat-coret fotonya. Bukan hanya satu tapi semua. Iya semua! Saya kesal kenapa sih ibu mau menghabiskan waktu dengan orang-orang ini. Sampai akhirnya ibu saya sadar kebiasaan saya, dan beliau bertanya “kenapa kamu coret-coret semua foto itu mbak?”. Saya jawab “Mereka jelek bu.” Damn! sampai sekarang saya tidak bisa mencerna kenapa saya bisa berbuat seperti itu #pengakuandosa #dosakeemak #maapmak. Dan ibu saya saat itu cuma bengong melihat kelakuan anak sulungnya.

Sampai suatu hari Ibu bilang bahwa ia mendapat tawaran melanjutkan pendidikan S2 dari kantornya. Terlihat sekali betapa ia sumringah mendapat tawaran ini. Tapi tau apa yang saya katakan? ” Bu, jangan diambil ya bu… Nanti ibu pulangnya malam.” OH MY GOD! Bener-bener deh ini anak!! #blamemyzodiac #ariesemangginisik ;p Sampai detik ini saya masih bisa ingat dengan jelas saya mengutarakan hal itu, tapi sampai saat ini pula penyesalan saya berkata seperti itu rasanya tidak termaafkan bagi saya pribadi. Ibu saya jelas tidak jadi mengambil tawaran pendidikan S2 nya dan berlapang dada membiarkan Ayah saya yang kemudian menempuh pendidikan S2.

Ibu yang akhirnya tidak menempuh pendidikan S2 nya memang pilihan bagi dia. Meskipun hingga kini di usia yang beliau hampir mendekati masa pensiun tidak akan bisa naik ke jenjang lebi tinggi lagi, ekselon. Karirnya tidak bisa lebih tinggi hanya karena tidak ada embel embel S2. huhu maafkan bu. Dan jawaban ini pula yang terus mengena di batin saya “Ibu mengalah tidak mengambil S2, biar Ayah saja. Kasihan juga anak-anak kalau ditinggal masih kecil-kecil.”

IMG-20121014-01452

Ibu dan cucu pria kesayangannya, abang.

dan saya selalu bangga olehnya. Dengan segala keputusan yang ia tempuh dan hasil yang ia peroleh saat ini.

Kini tongkat estafet ada ditangan saya,

Tongkat estafet keputusan itu, yang mungkin berapa belas tahun lalu pernah saya utarakan ke ibu hadir mengisi ruang pikiran anak saya.

Tidak, saya menulis ini bukan semata membandingkan mana yang lebih baik tetap berada dirumah atau terus melanjutkan tanggung jawab saya diluar sana sebagai wanita yang bekerja. Saya tau konsekuensinya masing-masing, tidak bekerja hanya dirumah saja, bekerja diluar rumah, bekerja dirumah ataupun bekerja dengan waktu tertentu. Semua keputusan ada resikonya, besar dan kecil tergantung bagaimana kita melihat dari sudut pandang masing-masing. Mungkin di sisi abang, anak sulung saya berada di dekat ibunya merupakan hal yang menyenangkan baginya saat ini. karena saya bisa bermain mengajaknya belajar melalui beragam kegiatan yang saya rancang sendiri. Namun saat saya bekerja pun tidak pernah sekalipun saya tinggalkan ia tanpa ada makanan yang saya siapkan di pagi hari (meskipun terkadang ia suka malas makan huhuu huush hussh pergi GTM! dan bikin saya galau di klinik sepanjang hari). Saya juga pesankan kepada orang rumah untuk melakukan apa yang biasa saya lakukan bersamanya bila hari libur tiba, seperti menggambar atau bermain dengan cat air.

Namun melihatnya semakin hari, semakin ia sulit untuk makan. Tubuh ‘mungilnya’ yang kata sebagian orang sampai terlihat tulang 😥 membuat saya kembali beripikir apakah tepat pilihan saya selama ini? apakah sudut pandang kami sejalan? Masalah tubuh ‘mungilnya’ ini sempat saya periksakan ke dokter anak. Bagaimana saya tidak takut dalam beberapa bulan tidak ada kenaikan berat badan, grow chart (grafik tumbuh kembang-mya) turun dua percentil! Abang sampai harus melakukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan urin-feces, pemeriksaan alergi hingga kami ke dokter gizi yang ternyata hanya karena masalah enzim di pencernaan yang bisa membuat dia BAB lebih dari 1 kali sehari. Selain enzim menurut dokter gizi bisa jadi anak saya seperti ada tekanan dengan kehadiran si adik yang jaraknya tidak terlalu jauh (21 bulan) ditambah dengan ketidak hadiran saya dirumah 😥 yang membuat pola makannya menjadi kurang baik

Seperti yang saya bilang semua dilihat dari sudut pandang, bagaimana dengan sudut pandang saya, si Ibu. Saya bukannya tidak mau untuk tidak terus berada bersama anak. Siapa yang mau melewatkan perjalanan pertumbuhan anak dari hari ke hari, melihatnya bersenda gurau dengan si mbak hati siapa yang tidak teriris? tapi kembali lagi setelah 6 tahun saya berkutat dengan kuliah per-gigian untuk medapatakan sebuah titel yang kini ada di depan nama saya. Sungguh berat rasanya untuk melepas begitu saja. Berat karena perjuangan yang telah saya lakukan baik materi maupun tenaga selama beberapa tahun, berat karena setiap 5 tahun pun saya tetap harus memperpanjang status titel saya pada sebuah Majelis Kedokteran, berat karena saya dan sejawat pun dituntut untuk tetap memperbarui ilmu yang didapat melalui beragam seminar dan pelatihan yang kredit poinnya akan menjadi syarat untuk perpanjangan status titel kami. Berat karena panggilan jiwa untuk mengabdi lebih dari sekedar bekerja seperti biasanya.. dan semua itu tidak disediakan dengan gratis.

20131129_085235

Saya yang sedang melakukan tugas bersama pasien kesayangan 🙂

Yak. Saya bekerja untuk itu semua. Untuk keluarga dan membantu suami, untuk bentuk tanggung jawab profesi, dan yang terpenting menambah ‘value’ diri saya bahwa saya mempunyai ‘peran’ di kehidupan luar sana. Dan nanti saat saya tua saya punya kehidupan tanpa harus saya tergantung kepada anak-anak saya ketika mereka dewasa. Itu yang selalu tertanam dalam diri saya

itu yang saya tau. Mungkin saya salah, mungkin penafsiran saya yang berbeda.

Tetapi disinilah saya sebagai seorang anak, ibu, istri dan juga pekerja akhirnya menemui titik dari olahan kalimat hidup yang telah saya jalani.

Titik perjalanan saya yang berada di persimpangan.

jalan yang terlihat mudah dijalani tetapi sulit untuk dipilih

20131229_053556

jalan panjang, mendaki dan harus dilalui

karena saya perjuangakan sebentuk cinta. cinta dangan keluarga dan cinta akan profesi

seperti kata Ibu Walikota Surabaya Tri Risma Harini

“Saya percaya meskipun saya menjaga anak-anak orang lain, Tuhan-lah yang akan menjaga anak saya”

lily adrige

from meetville.com

Mungkin sekarang, mungkin nanti…

Doakan saja jalan itulah yang terbaik

20140205_202343(1)

untuk kedua anakku, anzadeo dan anvaya.

One thought on “di persimpangan jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s